whatpath:

So when people call themselves “liberal” or conservative Muslims, it just doesn’t make sense. Do you liberally submit yourself to God, meaning you just pick and choose what you like to follow and leave the rest?
If people knew the meaning of Muslim they wouldn’t be giving themselves these labels (which is pretty unnecessary to begin with).
Leave the liberal and conservative tags with politics, that’s where it belongs, not in religion.

whatpath:

So when people call themselves “liberal” or conservative Muslims, it just doesn’t make sense. Do you liberally submit yourself to God, meaning you just pick and choose what you like to follow and leave the rest?

If people knew the meaning of Muslim they wouldn’t be giving themselves these labels (which is pretty unnecessary to begin with).

Leave the liberal and conservative tags with politics, that’s where it belongs, not in religion.

ohsopictures:

Found on - LINK

ohsopictures:

Found on - LINK

grayscalegrace:

Ini adalah dua penggalan dari karya Antoine de Saint-Exupéry, Le Petit Prince, yang—entah bagaimana—terasa menyentuh.


…Tetapi semua pekerjaan rutin itu terasa amat lembut pagi itu. Dan ketika ia menyirami bunga itu untuk terakhir kalinya dan bersiap-siap melindunginya dengan sungkup,…

ikumaikuma:

time with your mother is limited :(

Pulang

Beberapa hari yang lalu, saya sempat memutuskan untuk tidak pulang ke Bandung di libur akhir tahun ini karena tugas membuat maket dari departemen arsitektur lanskap. Saya sudah pasrah untuk menghabiskan waktu di kosan meskipun waktu tempuh Bogor-Bandung tidak terlalu jauh, 4 jam saja. namun ternyata tugas maket sudah selesai kemarin, bertepatan dengan hari Ibu. Saya pun membayangkan 10 hari selanjutnya yang kosong melompong sampai UAS tanggal 2 Januari, dan memilih untuk mengirim pesan ke ibu, menanyakan pendapat beliau tentang pulang ke Bandung. Saya ragu-ragu untuk pulang karena satu kebiasaan jelek: saya ga bisa fokus belajar di rumah. Setelah dibujuk ibu untuk pulang, dan pertimbangan belum pulang hampir 3,5 bulan terakhir, saya memutuskan untuk pulang besok pagi.

Berangkat pukul 07.00 pagi dari Darmaga-Bogor, saya menginjakkan kaki di rumah tercinta pukul 11.12. Ternyata sudah ada SMS dari ibu:

Mamah

23-Dec-2011  10:47

Udah nyampe mana?

 

Langsung saya balas, saya baru saja sampai rumah, lalu dibalas lagi,        

Mamah

23-Dec-2011  11:18

Alhamdulillah, pulang juga akhirnya..

Hati saya merasa tersentil. Seorang ibu mungkin tidak mengharapkan anaknya untuk ber-IP 4; atau menjadi aktivis; atau menjadi orang hebat, sebesar beliau mengharapkan dan mendoakan kita, anak-anaknya, agar tidak pernah lupa dari mana kita berasal.

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). (QS. Al Ahqaaf: 15) 

ohsopictures:

via ohsopictures

The Death of Sukardal

Sukardal, 53, tukang becak mati gantung diri, karena becaknya tgl 2 juli 1986 disita petugas tibum. Seorang dari sekian ratus ribu yang kehilangan mata pencarian di indonesia. ia mati tapi tidak membisu. SUKARDAL menggantung diri pada umurnya yang ke-53.

Tukang becak tua ini kehilangan becaknya, pada tanggal 2 Juli 1986 malam, di sebuah perempatan Kota Bandung. Para petugas Tibum, sesuai dengan peraturan dan perintah atasan, menyita becak itu.

“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian yang lain. “Tapi putus asa adalah dosa,” kata para pemberi petuah (dan iklan tabib). “Ekstrem,” kata seorang pejabat. “Barangkali ada pihak ketiga,” kata pejabat lain.

Sukardal mungkin tidak tahu siapa pihak ketiga, siapa pihak pertama, siapa pihak kedua. Ia telah mencoba berebut mempertahankan becaknya dari sitaan petugas. Ia telah diseret ke arah parit. Ia telah menendang. Ia telah diseret lagi dan dinaikkan ke mobil. Ia telah berontak dan berhasil turun dari mobil.

Tapi ia melihat becaknya telah diangkut truk, ia melihat sumber hidupnya terbang, maka ia kembali meloncat ke arah mobil Tibum yang berjalan. Ia menggandul pada mobil itu, dan berteriak-teriak, “Saya mau bunuh diri …. Saya mau bunuh diri ….”

Dan benar: Sukardal kemudian menggantung diri, di sebuah pohon tanjung, di depan sebuah rumah di Jalan Ternate.

“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian yang lain. “Tapi kami hanya menjalankan tugas,” kata para petugas Tibum. “Dan pers jangan membesar-besarkan perkara ini,” kata seorang pejabat.

Apa yang besar sebenarnya? Apa yang kecil? Satu dari 18.000 becak di Kota Bandung adalah soal kecil. Seorang dari sekian ratus ribu orang yang kehilangan mata pencaharian di Indonesia kini adalah soal kecil. Lagi pula, pada saat satu Sukardal mati, di sebuah sudut, satu genius yang sama hebat dengan Habibie mungkin baru lahir di sudut tanah air yang lain. Penderitaan manusia adalah ombak yang tak bisa dielakkan dari sejarah sebuah bangsa….

Penderitaan manusia?

Beberapa saat sebelum mati, Sukardal menulis sepucuk surat wasiat. Ia bicara kepada anaknya yang sulung: “Yani, adikmu kirimkan ke Jawa, Bapak sudah tidak sanggup hidup. Mayatku supaya dikuburkan di sisi emakmu.” Dan Yani, 22 tahun, yang bersama tiga adiknya yang kecil-kecil tinggal di sebuah bilik 4 x 4 m (yang disewa), tak sanggup. Wasiat itu terlalu berat. Mengirimkan jenazah ke Majalengka dari Bandung, bagi mereka, bukan perkara kecil.

Apa yang kecil sebenarnya? Apa yang besar?

Seorang bapak yang selama ini sendirian merawat anak-anaknya, dan jarang marah, adalah sesuatu yang besar bagi anak-anak itu. Sebuah becak yang seharga Rp 50 ribu, dan baru saja lunas dicicil, adalah sesuatu yang besar bagi keluarga itu.

Satu setengah meter dari pohon tempat Sukardal mati, ada tembok. Di sana tertulis (kemudian dihapus oleh petugas kepolisian): “Saya gantung diri karena becak saya dibawa anjing Tibum”.

Becak saya, kata Sukardal. Ada kebanggaan memiliki. Ada rasa marah karena sebuah hak direbut. Ada makian: huruf-huruf itu memprotes dan sekaligus putus asa. Dengan kata lain, sebuah perkara besar, karena ia justru terbit pada seorang yang begitu kecil.

Orang yang kecil adalah orang yang memprotes dengan keyakinan tipis bahwa protes itu akan didengar, dan karena itu teriaknya sampai ke liang lahad.

Seperti sebuah sajak, ditulis oleh seorang penduduk Chichibu, di sebelah barat Tokyo, ketika Jepang belum lagi kaya di akhir abad lalu, setelah petani-petani miskin mencoba berontak di tahun 1884 dan kalah dan terkubur:

Angin bertiup
Hujan jatuh
Anak-anak muda mati.
Keluh kemiskinan
Berkibar seperti bendera …
Kata di nisan kami,
Yang tertimbun badai salju 1884,
Tak nampak oleh yang berkuasa
Maka di saat-saat begini
Kami harus menjerit setinggi-tingginya.

Sukardal juga sebenarnya mencoba menjerit tinggi-tinggi. “Kalau betul-betul negara hukum, Tibum harus diusut,” tulis tukang becak itu sebelum mati, pada tembok. Dia bilang, kalau betul-betul. Dia tidak bilang, karena ini negara hukum….

Sukardal meminta, dengan leher terjirat dan nyawa melesat, dan itu berarti dengan keras — karena ia sesungguhnya tidak begitu yakin.

Bagaimana ia bisa yakin? Ia pasti tahu ia bukan termasuk mereka yang bisa menang. Ia bahkan mungkin tak termasuk mereka yang pernah menang. Orang kecil adalah orang yang, pada akhirnya, terlalu sering kalah. Sukardal telah lewat setengah abad: sudah teramat tua untuk memilih kehidupan lain, terlampau tua untuk berontak. Tapi ia, yang tamat sekolah menengah, yang datang dari sebuah kampung di Yogya dan berdagang kecil di Jakarta, toh masih merasa perlu menuliskan pesannya. Ia mati, dan ia tidak membisu. Dan hidup kita, kata seorang arif bijaksana, terbuat dari kematian orang-orang lain yang tidak membisu.

~Majalah Tempo, Edisi. 21/XIIIIII/19 – 25 Juli 1986~

dan saya baru tahu.. source caping.wordpress